Senin, 26 Oktober 2015

Cooking, Penetapan Tujuan Bersama (PTB) & Penutupan BKSN

“It’s Cooking Time” –

Cooking time bulan September ini adalah Timus Goreng.

Makanan sangat penting untuk semua kegiatan kita. Kita makan guna mempertahankan kesehatan tubuh kita dan mendapatkan tenaga. Bagi beberapa orang makanan hanyalah makanan, namun bagi sebagian orang lainnya makanan membawa kenangan atau ingatan mengenai sesuatu atau seseorang. Harumnya roti yang masih hangat membuat kita membayangkan nenek kita sendiri memakai celemek sedang mengambil potongan roti hangat yang masih panas dari dalam oven, untuk kemudian dipotong dan diolesi selai mentega manis dan madu.

Melalui pengalaman dari makanan anak-anak dapat belajar tentang orang dan daerah lain. Para guru bisa memperkenalkan makanan khas dari daerah tertentu, seperti timus goreng dan meminta anak – anak membuatnya sebagai snack.

Program memasak bersama ternyata memberikan banyak manfaat untuk perkembangan anak, antara lain :

  1. Meningkatkan kehangatan kelas maupun keluarga.
    Aktivitas memasak tergolong sarat komunikasi, sehingga memungkinkan terjalinnya kehangatan antara guru dan siswa maupun orangtua. Saat mengajarkan menumbuk singkong, guru/orangtua akan turut memegang ulekan untuk memberi contoh.
  2. Meningkatkan wawasan anak.
    Sambil menyiapkan bahan, guru/orangtua bisa mengajarkan mengenai kandungan gizi pada makanan. Misalnya, kegunaan ubi yang mengandung zat besi yang menjadi sumber energi.
  3. Melatih konsentrasi dan daya ingat.
    Saat memulai masak, anak akan belajar mengikuti langkah-langkah dalam resep dan anak akan belajar lebih detail dan teliti.
  4. Mengembangkan sensitivitas rasa.
    Dalam proses memasak anak dapat mencium aroma bahan makanan dan hasil masakan sehingga mereka belajar untuk berpendapat apakah masakannya sudah enak atau belum. Namun sensitivitas rasa tidak hanya berlaku saat anak mencicipi masakannya. Mengembangkan sensitivitasnya juga dapat dilakukan melalui tekstur bahan makanan. Hal ini juga akan berpengaruh saat ia mengerjakan tugas prakaryanya.
  5. Membiasakan pola makan sehat
    Ketika anak dibiasakan makan makanan rumahan yang lebih sehat, ia tidak akan ragu mengonsumsi sayuran atau buah-buahan, jenis makanan yang cenderung dihindari anak. Ia juga akan berani menolak jajanan diluar rumah yang kurang bergizi. 


    Merunut juga dari salah satu teori yaitu Howard Gardner berkenaan dengan kegiatan memasak dapat mengasah hampir semua aspek kecerdasan anak yaitu :

  1. Kecerdasan berbahasa
    Selama proses memasak, anak pasti harus menyimak instruksi yang diberikan dengan baik, menghafalkan pesan yang disampaikan dan berinteraksi dengan sang instruktur.
  2. Kecerdasan logis metamatis
    Masukkan 2 buah ubi, 200 gram gula, 1 sendok teh garam.  Anak belajar berhitung dengan cara yang menyenangkan bukan?
  3. Kecerdasan interpersonal
    Sepanjang waktu memasak anak akan bekerja sama dengan orang lain sehingga ia akan terlatih untuk berinteraksi dan memahami karakter orang lain.
  4. Kecerdasan intrapersonal
    Dengan bekal kemampuannya, anak-anak menjadi lebih percaya diri dan mandiri. Anak-anak mempunyai rasa kebanggaan yang tinggi ketika masakannya dicoba oleh orang lain terutama orangtuanya dan diberikan pujian. Memasak juga menumbuhkan keberanian untuk mengambil risiko dan menghadapi konsekuensinya.
  5. Kecerdasan kinestetik
    Kemampuan motorik halusnya sudah pasti terasah saat harus memetik sayuran, mengoleskan mentega, dll.
  6. Kecerdasan visual
    Kreativitas anak sangat dibutuhkan ketika ia harus memilin timus atau menata makanannya. Mereka juga menjadi lebih peka terhadap warna, arah, ruang dan bentuk, sehingga ia dapat melahirkan ide secara visual.

    Ternyata tidak hanya itu saja lho, bahkan menurut Arleen Amidjaja dalam bukunya Fun and Mind Stimulating Things To Do with Your Kids (2 - 6 years), memasak penting bagi anak karena memberikan banyak manfaat khususnya bagi daya ingat dan konsentrasi.
    Saat anak belajar memasak, anak diberi kesempatan untuk berkonsentrasi lebih fokus, melatih konsep-konsep matematika karena ada kegiatan menakar sesuatu. Anak juga belajar bereksperimen, berkarya dan berbagi.
    Berbagai  pengalaman dengan berbagai variasi makanan yang bergizi bisa membantu anak-anak mempertahankan kebiasaan memakan makanan sehat. Mereka juga mempelajari bahwa makanan tertentu ikut memberikan konstribusi terhadap kesehatan dan pertumbuhan, sementara yang lain bisa menimbulkan masalah kesehatan. Anak-anak harus diajarkan untuk mengetahui pilihan-pilihan makanan yang memberi kesehatan dengan cara mempelajari apa yang dibutuhkan tubuh.
    Memasak adalah kegiatan yang mendukung perkembangan dan pembelajaran dalam semua sumber perkembangan.
    Dalam memasak, perlu juga disampaikan mengenai keselamatan, antara lain yaitu :

  1. Peragakanlah kepada anak-anak cara yang aman dalam menggunakan peralatan-peralatan yang tajam. Hanya perbolehkan anak- anak menggunakan peralatan yang tajam bila sedang diawasi oleh orang dewasa.
  2. Tunjukkanlah hambata-hambatan dalam memasak seperti bahaya bakar, pentingnya untuk selalu mematikan peralatan dan menjaga jarak aman selama proses memasak.
  3. Tunjukkan cara menggunakan peralatan. Anak yang termuda mungkin perlu memperhatikan orang dewasa memasak yang sebenarnya, seperti mengaduk sup yang sedang mendidih atau adonan yang sedang digoreng, sementara anak-anak yang lain bisa melakukannya sendiri.
  4. Ajari anak – anak bagaimana cara memegang gagang panci dan bagaimana cara meletakkan makanan panas diatas alas atau permukaan yang tahan panas.
  5. Cari tahu apabila ada anak yang memilki alergi terhadap sejenis makanan tertentu dan pastikan bahwa orang dewasa yang membantu juga mengetahui hal ini. Sediakanlah makanan pilihan lain untuk anak tersebut.
  6. Pastikan bahwa anak-anak telah mencuci tangannya dengan air sabun sebelum memegang makanan. Bersihkan dan sterilkan tempat kerja anda.
  7. Usahakan agar terdapat pengawasan orang dewasa yang cukup selama kegiatan berlangsung.
  8. Gunakan peralatan listrik dengan hati-hati. Pastikan anak-anak mengerti “panas” dan mereka sangat hati-hati bila berada disekeliling oven, kompor, blender, piring panas, panci elektrik. Jangan biarkan anak – anak berkumpul disekitar peralatan yang sedang digunakan.
  9. Masukkan kabel ke stop kontak yang tidak menghalangi jalan agar anak – anak tidak terjatuh. Kabel-kabel harus selalu dilepas ketika sedang tidak dipakai.
  10. Pastikan bahwa baskom memasak anti pecah.
  11. Perintahkan anak-anak untuk duduk ketika sedang menggunakan pisau, pengupas, parutan dan peralatan tajam lainnya.
  12. Persyaratan lainnya adalah agar orang dewasa terlebih dahulu dilatih dalam memberi pertolongan pertama pada kecelakaan dan mampu menanggapi luka gores, tercekik dan luka bakar.



    Penetapan Tujuan Bersama (PTB) – perkembangan anak ke arah positif tidak terlepas dari OTM dan guru
    Guru, siswa dan orangtua adalah tiga pihak yang saling berhubungan erat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam proses pembelajaran. Apabila mereka sungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu maka hasil yang didapatkan akan bagus sehingga mereka akan puas dengan hasil yang didapatkannya.
    Sebelum pertemuan PTB dimulai, sebelumnya para guru melakukan observasi atau pengamatan dimana teknik penilaian yang dilakukan adalah dengan menggunakan indera secara langsung. Observasi dilakukan dengan menggunakan pedoman observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku yang akan diamati. Misalnya tingkah laku siswa di dalam kelas pada saat mengikuti kegiatan.
    Observasi adalah proses sistematis dalam pengumpulan data/informasi tentang anak dan lingkungannya. Observasi bersifat objektif, merupakan deskripsi fakta tentang perilaku anak, bukan interpretasi tentang anak. Observasi dapat dilakukan dengan cara-cara seperti:

  1. Mengamati dan mendengarkan anak kemudian dicatat,
  2. Mengukur aspek perilaku maupun respon siswa terhadap suatu kegiatan,
  3. Memonitor perkembangan anak dalam situasi natural/bukan tes, dll.

  Observasi berarti juga mengamati dengan seksama untuk memperoleh gambaran 
  umum  sekaligus hal detail yang signifikan. Proses observasi terdiri dari 3 komponen 
  yaitu:

  1. Observing/pengamatan (mengumpulkan informasi)
  2. Recording (mendokumentasikan hal yang kita amati dengan berbagai cara)
  3. Interpreting (merefleksikan makna hal yang kita observasi)


  Panduan observasi yang perlu dijadikan sebagai acuan yaitu :

  1. Fokus observasi adalah pada perilaku anak
  2. Catat detail observasi segera setelah observasi
  3. Observasi anak dalam kondisi/situasi dan waktu yang berbeda

           Dalam proses PTB, sejak dini siswa dibimbing untuk mampu melakukan refleksi diri, dimana salah satu karakter yang dikembangkan adalah kejujuran, dan kemampuan yang dikembangkan adalah kemampuan berkomunikasi serta menyatakan pendapatnya yang dilatih saat berdiskusi dengan guru dan orangtuanya tentang hal-hal yang ingin dicapai dalam pembelajarannya selama 1 tahun pelajaran berjalan.

            Dalam proses tersebut siswa dilatih untuk menilai diri dan mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya. Hal ini dapat memberikan manfaat/dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seorang peserta didik diantaranya:

  1. Menumbuhkan rasa percaya diri dan melatih anak untuk memiliki kemampuan menginstrospeksi diri, karena peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri untuk mengetahui kekurangan dan kelebihannya.
  2.  Memberikan motivasi untuk membiasakan dan melatih peserta didik untuk berbuat dan berkata jujur dalam menyikapi suatu hal.  



Penutupan BKSN
 
Bulan Kitab suci Nasional (BKSN) merupakan bulan yang secara khusus digunakan untuk mengenal Kitab Suci lebih jauh. Tema BKSN kali ini yaitu: “Bersyukur karena Engkaulah kekuatan & penolongku”. Dalam rangka BKSN ini KB-TK Stella Maris mengadakan 2 kegiatan besar, yaitu Lomba BKSN tanggal 23 September 2015 dan Penutupan BKSN tanggal 28 September 2015. Dalam kegiatan Lomba BKSN, siswa mengikuti lomba menghafal ayat Kitab Suci dan menonton mini drama yang diperankan oleh guru-guru yang membawa pesan karakter baik yang harus dimiliki oleh siswa, seperti bertanggung jawab terhadap barang miliknya dan bersikap sopan. Sedangkan acara Penutupan BKSN diisi dengan ibadat serta menonton film rohani.
Pada saat ibadat para siswa berdoa, mendengarkan cerita Alkitab dan bernyanyi. Tujuan dari kegiatan ini yaitu menanamkan dan menumbuhkan semangat pada diri siswa untuk membaca Alkitab dan berdoa di dalam keluarga, serta semangat melayani keluarga dan sesama yang membutuhkan.